Halo sahabat selamat datang di website skincareindonesia.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Dexamethasone, Obat Dewa, dan Pedang Bermata Dua oleh - skincareindonesia.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Oleh Ari Baskoro

ADAKAH tenaga kesehatan yang tidak mengenal obat ini? Adakah mahasiswa kedokteran yang melupakan nama tenar ini? Sungguh kebangetan kalau seorang dokter belum pernah meresepkan obat ”serbabisa” ini.

Selama di bangku kuliah, obat inilah yang mungkin mendapatkan porsi pembelajaran yang terbanyak. Dexamethasone sungguh fenomenal.

Tidak harus datang ke fasilitas kesehatan, seorang pasien yang sangat awam mengenai obat-obatan akan dengan mudah memperoleh obat yang seharusnya termasuk golongan obat keras dan harus digunakan melalui resep dokter ini.

Orang menyebutnya sebagai obat kelas warung atau kelas kaki lima. Namun, kini berita dari negara seberang nan jauh, Inggris, tepatnya studi Oxford, menyebut obat ini sebagai penyelamat pasien Covid-19 yang mengalami penderitaan antara hidup dan mati.

Benarkah kata peneliti dari Oxford University tersebut? Pemakaian Dexamethasone di dunia medis sangat luas, mulai penyakit rematik (orang awam menyebutnya penyakit asam urat), penyakit kulit, penyakit autoimun, alergi dengan berbagai manifestasi, asma, penyakit paru obstruktifkronik, batuk, hingga pembengkakan otak.

Bahkan, di bidang kebidanan dan kandungan, obat tersebut diindikasikan pada kehamilan belum cukup bulan. Itu agar terjadi pematangan fungsi paru janin sehingga kualitas hidup bayi prematur akan meningkat.

Demikian luasnya indikasi penggunaan obat tersebut, tidak mengherankan kalau tenaga medis menyebutnya sebagai ”obat dewa”. Tidak hanya cukup di situ, obat yang termasuk golongan steroid itu ternyata digunakan secara salah oleh orang-orang tertentu. Baik untuk meningkatkan nafsu makan dan berat badan atau dijadikan ”jamu” maupun untuk mengatasi encok dan pegal-linu.

Saat ini gema Dexamethasone semakin nyaring dengan ditelitinya sebagai obat Covid-19, khususnya pasien-pasien yang dirawat di ICU (intensive care unit) dengan menggunakan ventilator. Istilah kerennya untuk life saving.

Sebelum Inggris, negara-negara lain, khususnya Tiongkok sebagai tempat asal virus korona yang menyebabkan pandemi kali ini, juga menelitinya. Para ahli di Spanyol dan Italia pun sepakat menggunakan obat tersebut sebagai life saving kasus Covid-19 yang berat.

Walaupun, tidak semua ahli seia sekata dengan pendapat tersebut, termasuk WHO sebagai organisasi kesehatan dunia. WHO menyatakan, obat itu tidak harus rutin digunakan pada kondisi radang paru yang berat akibat virus korona.

Sesuatu hal yang wajar terjadi pro dan kontra terhadap metode suatu pengobatan, khususnya terhadap Covid-19, ketika tingkah laku virus penyebabnya pun belum terlalu dikenali para ahli di seluruh dunia. Manifestasi klinis yang tampak pada Covid-19 memang bervariasi. Tampak seperti spektrum, mulai yang tidak bergejala, gejala ringan seperti influenza, hingga kasus-kasus yang memerlukan perawatan intensif di ICU, bahkan berujung pada kematian.

Data menunjukkan, 10â€"15 persen kasus yang memerlukan perawatan intensif, termasuk yang lima persen akan mengalami perawatan di ICU dengan menggunakan ventilator. Kondisi klinis berat seperti itulah yang memerlukan peran ”obat dewa” tersebut.

Kasus Covid-19 yang berat dan menjurus pada kondisi gagal napas di dunia kedokteran diduga disebabkan terjadinya peradangan/inflamasi sistemik di seluruh organ-organ tubuh yang bisa berujung menjadi kegagalan fungsi masing-masing organ tubuh yang terlibat.

Dalam keadaan kritis demikian, terjadi ”tumpahan” komponen-komponen peradangan di seluruh sirkulasi darah yang dikenal dengan istilah ”badai sitokin”. Sedangkan sitokin itu sendiri adalah komponen-komponen peradangan yang timbul sebagai akibat respons imunitas tubuh terhadap adanya sumber infeksi yang dalam hal ini adalah virus korona.

Di sinilah letak ”keajaiban” obat dewa tersebut. Obat itu memang disebut sebagai imunosupresan (menekan sistem imun) sekaligus anti-inflamasi yang paling potensial. Logika pikir yang mudah pasti akan mengatakan, pada kondisi yang berat saja Dexamethasone mampu berperan begitu dominan, apalagi pada kasus-kasus Covid-19 yang ringan, pasti obat itu akan dengan mudah melibas virus korona yang sangat menular tersebut.

Sebab, di satu sisi efeknya sebagai anti-inflamasi yang sangat menguntungkan tersebut. Namun, di sisi lain, seperti ”pedang bermata dua”, obat itu dapat menekan sistem imunitas yang justru dibutuhkan kapasitasnya untuk mengenyahkan virus korona tersebut, terutama pada awal gejala klinis muncul.

Pemberian obat yang terlalu dini justru akan memperlambat penyembuhan, bahkan virus korona akan cenderung lebih lama ngendon di dalam tubuh manusia. Jadi, jelas, penggunaan obat itu hanya untuk kepentingan life saving dan bukan bersifat antivirus/dapat membunuh virus.

Pemahaman itu perlu ditanamkan kepada siapa pun. Sebab, seperti kata pepatah: obat adalah bahan berbahaya, tapi di tangan ahlinya, obat bisa sangat bermanfaat. Indikasi penggunaan maupun kontra indikasinya pun akan benar-benar dipertimbangkan dengan saksama oleh dokter yang berkompeten.

Dexamethasone selain efektif pada kasus-kasus tertentu, relatif sangat murah dan bisa didapatkan dengan mudah di seluruh pelosok negeri. Namun, juga sering digunakan secara salah dan tidak sesuai indikasi.

Dampak yang nyata adalah tidak jarang dijumpai penyakit yang justru timbul akibat penggunaan obat yang tergolong lawas tersebut. WHO memberikan rekomendasi penggunaannya sejak 1961.

Efek samping yang relatif sering terjadi adalah timbulnya jerawat, insomnia (sulit tidur), depresi, euforia, pusing, nyeri kepala, peningkatan nafsu makan (justru dipakai untuk ”obat” meningkatkan nafsu makan), penambahan berat badan, hipertensi, risiko meningkatnya infeksi, peningkatan tekanan bola mata sampai gangguan penglihatan, mual-muntah, penyakit lambung, lupa ingatan, gangguan jiwa, sampai tidak sadarkan diri.

Bahaya lain adalah timbulnya osteoporosis, gangguan pertumbuhan (pada anak), otot yang mengecil-lemah, pemicu terjadinya kencing manis, penyakit jantung, dan masih banyak lagi. Semoga dengan mengenal lebih baik tentang Dexamethasone, akan lebih bijak lagi tidak menggunakannya tanpa petunjuk ahli yang berkompeten. (*)

*) Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/SMF Ilmu Penyakit Dalam FKUA/RSUD dr Soetomo Surabaya

Itulah tadi informasi mengenai Dexamethasone, Obat Dewa, dan Pedang Bermata Dua oleh - skincareindonesia.site dan sekianlah artikel dari kami skincareindonesia.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.